Najis Anjing

Penulis Naskah :
Syekh Muh.Saharuddin Sq.M.Ag
Editor:
Ustad Abd.Rahmansyam,S.PdI
Penyunting/Setting:
Kasmad Bachtiar,

-Hampir tak ada yang mengingkari kenajisan binatang bernama anjing itu, yang diperdebatkan oleh ulama adalah batasan kenajisannya, apakah seluruh tubuhnya, ataukah hanya air liurnya saja, dan seterusnya. Uraian mengenai ini diuraikan panjang lebar di dalam kitab-kitab fikih, tentu saja disertai dengan argumen dan dalil-dalilnya masing-masing.

Namun,sering kita dibicarakan dalam kitab-kitab tersebutkan bahwa hanyalan najis anjingnya saja,bukan najis ke-anjing-an.Karena najis kedua ini tidak masuk dalam cakupan wilayah fikih, tapi melampaui wilayah fikih. Wilayah tasawuf kata sebagian orang.

Meski jarang mendapat perhatian dari kebanyakan orang, namun justru najis kedua ini jauh lebih berbahaya, bahkan kebanyakan orang celaka di akhirat karenanya.

Dalam riwayat yang sangat masyhur, dikisahkan suatu hari seorang ulama sekaligus sufi besar, Syeikh Al-‘Ârif Billah Abu Yazid al-Busthami sedang berjalan-berjalan seorang diri tanpa ditemani oleh muridnya (sebagian sejarawan mengatakan peristiwa itu terjadi di malam hari).

Tiba-tiba ada seekor anjing hitam yang datang dari arah berlawanan. Tampak anjing itu dari kejauhan sedang santai berjalan mendekat ke arah Sang Syeikh. Syeikh Abu Yazid pun santai berjalan dan beliau tiba-tiba kaget ketika anjing itu terus mendekatinya.

Anjing itu hampir saja menyentuh Abu Yazid, beliau pun sentak mengangkat jubahnya agar tidak tersentuh oleh anjing itu, apalagi air liurnya.Betapa kagetnya Abu Yazid karena tiba-tiba anjing itu berbicara kepadanya :

“Wahai Abu Yazid, tubuhku ini kering sehingga tidak mungkin dirimu terkena najis dariku, kalaupun engkau terkena najisku, engkau cukup mencuci dengan air dan tanah tujuh kali maka dirimu sudah menjadi bersih, tapi najis ke-takabbur-anmulah menganggap dirimu lebih suci dariku tidak bisa bersih walaupun dicuci dengan tujuh samudera.”kata siAnjing

Merasa terkejut dengan ungkapan anjing, Abu Yazid terdiam dan termenung memikirkan ungkapan yang tak terduga itu. Ia merasa bersalah dan merasa malu terhadap anjing itu. Maka ia pun meminta maaf dan meminta kepada anjing hitam itu untuk bersahabat saja agar bisa saling belajar dan bisa bersih dari najisnya.

Abu Yazid berkata: “Maukah engkau bersahabat denganku, agar kita bisa saling belajar untuk membersihkan diri kita masing-masing?”Abu Yasid menawarkan kepada si Anjing itu.

Sang Anjing menjawab: “Wahai Abu Yazid, tidak mungkin aku bersahabat dan berjalan bersama denganmu, karena pasti orang-orang akan menghina, melempari dan mengusirku, sedangkan engkau disambut dan dimuliakan oleh mereka bagaikan raja. Aku juga tak mengerti, mengapa mereka membeci dan menghinaku, padahal aku pasrah kepada Tuhanku yang telah menciptakan aku seperti ini.”ungkap anjing kepada Abu yasid penuh kesal

Anjing itu melanjutkan celotehannya: “Lihatlah, aku tidak membawa makanan walau sepotong tulang pun untuk bekal dan yang akan kumakan di esok hari karena ku yakin kepada Tuhanku yang akan memberiku rezki, sedangkan engkau masih membawa sekantong gandum untuk bekalmu.”

Ini menunjukkan tingginya jiwa tawakkalnya Sang Anjing terhadap Tuhannya Yang Maha Pemberi Rezeki.

Abu Yazid lalu berdoa: “Wahai Tuhanku, kalau kepada seekor anjing hitam ciptaan-Mu saja diriku tak pantas berjalan bersamanya, bagaimana aku bisa berjalan bersama-Mu? Maafkanlah diriku ini, dan bersihkanlah kotoran yang ada di dalam kalbuku.”

Mutiara hikmah dari kisah tersebut diatas menunjukkan bahwa najis anjing bisa bersih dengan tujuh kali dicuci dengan air dan tanah, sedangkan najis ke-anjing-an (kesombongan dan agresi) tidak bisa bersih walau dicuci dengan tujuh samudera.

Mengapa demikian? Karena najis anjing adalah najis lahiriah yang mudah terlihat sehingga mudah juga membersihkannya, sedangkan najis ke-anjing-an adalah najis bathiniah yang sangat sulit terlihat dan terdeteksi.

Hanya orang-orang khusus (khawâsh)-lah yang mampu melihat, mendeteksi dan merasakannya, lalu membersihkannya. Ya, karena mereka memiliki kalbu yang jernih lagi bening, sehingga mudah melihat sekecil apapun kotoran dan noda yang ada di dalam dirinya. Sedangkan kita (khususnya saya) sebagai orang awam susah melihat dan mendeteksi noda itu, karena kaca kalbu hitam yang dipenuhi dengan kotoran. Bagaimana mungkin kita bisa melihat noda di dalam comberan?

Selain itu, najis ke-anjing-an tidak bisa bersih walaupun dicuci dengan tujuh samudera, selain kalimat ini bermakna kiasan,karena najis itu tidak akan bersih jika dicuci dengan air sebanyak apapun, memang pembersihnya bukan air.Tetapi Pembersihnya adalah air mata taubat, air keringat riyâdhah dan darah perjuangan mujâhadah.

Membersihkannya bukan dibasuh hanya tujuh kali, tapi dibasuh dan digosok seumur hidup. Untuk membersih kannya kadang dengan musibah yang bertubi-tubi hingga sajadah basah dengan air mata di tengah malam selama bertahun-tahun, ditambah dengan keringat dan darah dalam memperjuangkan istiqamah ruku’ dan sujud kepada-Nya dan perjuangan menahan keinginan dan nafsu duniawi sepanjang hidup, termasuk nafsu pujian dan popularitas, ditambah dengan air mata taubat yang tiada henti.

Apakah sedemikian beratnya untuk membersihkan diri kita dari najis batiniah itu? “Oh betapa beratnya. Meski tidak mustahil, namun sepertinya hampir tak mungkin ku menggapainya.” Jangan katakan itu! Jangan katakan tidak mungkin!

Di balik semua perjuangan, di balik semua jeripayah manusia, ada Dzat Yang Maha Mungkin, ada Kekuatan (Qudrah) Yang Maha Segalanya. Bagi-Nya tidak ada yang tak mungkin. Semua mungkin bagi-Nya.

Dia Maha Menolong, Maha Pemurah, Pengasih, bahkan Penyayang. Ampunan-Nya Maha Luas dan Besar, lebih besar dari semua dosa-dosa besar meski dikumpulkan. Dia Maha Mensucikan siapa pun yang Dia kehendaki.
Maka sekotor apapun bathin kita, jangan pernah putus harapan dari rahmat-Nya. (-_-)