BULUKUMBA, Aliefmedia.com — Di tengah seruan nasional untuk memperkuat peran ayah dalam pendidikan anak, Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah (GEMAR) terus bergulir di berbagai daerah di Indonesia 24 Desember 2025. Gerakan ini diluncurkan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN melalui Surat Edaran Menteri Nomor 14 Tahun 2025 sebagai respons terhadap fenomena fatherless — kondisi minimnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak yang menurut data pendataan keluarga mencapai sekitar 25,8 persen keluarga di Indonesia.
Gerakan yang kini juga didukung oleh pemerintah daerah hingga sekolah-sekolah ini mengajak seluruh ayah untuk hadir secara langsung di sekolah saat rapor siswa dibagikan. Tujuannya bukan hanya sekadar mengambil dokumen, melainkan mempererat ikatan emosional antara ayah dan anak, serta mendorong komunikasi yang lebih baik antara orang tua, anak, dan guru. Kehadiran ayah di sekolah pada momen penting pendidikan diharapkan memberi dukungan moral dan motivasi kepada anak untuk terus berkembang.
Sementara itu, di ranah media dan pandangan sosial, praktisi media Saiful Alief Subarkah — yang dikenal aktif mengangkat isu-isu tentang peran media dan keterlibatan masyarakat — memandang pentingnya keterlibatan publik dalam dialog sosial seperti pendidikan dan peran keluarga. Sebagai praktisi yang sebelumnya menekankan arti penting media dalam membangun komunikasi yang kuat antara sumber informasi dan masyarakat, pandangan semacam itu menguatkan momentum GEMAR sebagai bagian dari upaya kolektif untuk menghadirkan figur ayah yang lebih hadir dalam kehidupan anak, seraya mengajak masyarakat secara luas menjadi bagian dari perubahan budaya positif. Pandangan ini selaras dengan peran media dalam mendorong narasi-narasi sosial yang memperkuat pendidikan keluarga serta membangun komunikasi publik yang cerdas dan reflek
Namun gerakan ini juga tidak lepas dari respons publik yang beragam. Sejumlah kritik muncul di media sosial dan dari kelompok masyarakat yang menilai gerakan yang disebut banyak pihak sebagai positif ini kurang sensitif terhadap kenyataan sosial seperti anak-anak yang tidak memiliki ayah, orang tua tunggal, atau figur wali sebagai pengganti. Kritikus menilai gerakan sebaiknya lebih inklusif dan tidak memprioritaskan satu figur orang tua saja agar tidak menimbulkan stigma sosial baru di sekolah.
Dengan beragam respons tersebut, GEMAR terus menjadi topik hangat di ruang publik, memperlihatkan bagaimana sebuah inisiatif tidak hanya mengangkat isu peran ayah dalam pendidikan tetapi juga memicu diskusi lebih luas tentang dinamika keluarga dan peran media dalam membentuk persepsi sosial.(*)

