BULUKUMBA, Aliefmedia.com – Pemuda Muhammadiyah Bulukumba bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UMB) dan Pemerintah Daerah Bulukumba menggelar dialog peternakan pada Kamis, 12 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Lecture Theater UMB Bulukumba tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, pemerintah, asosiasi, hingga praktisi.
Dialog ini menghadirkan Dosen Program Studi Peternakan UMB, Budi Wardiman, S.Pt., M.Sc; Kepala UPT Pembibitan Ternak dan Hijauan Pakan Ternak, Ir. H. Suriya Darma, S.Pt., M.Si., IPM; Kepala Bidang Tanaman Pangan, Muh. Nurjasman, S.P., M.P; Ketua Asosiasi Porang, Muhris, S.H; Ketua DPD Tani Merdeka, Andi Aso Syahrial; serta perwakilan PT Medioan Ardika Bhakti, drh. Astuti Cipardani.
Wakil Ketua Pemuda Muhamamdiyah Bulukumba yang memandu kegiatan, Muh. Sabir S.Pt mengatakan dialog ini mengusung Tema “Sapi VS Porang: Benarkah Beternak Tidak Lagi Menjanjikan?”.
Kegiatan ini menghadirkan ruang diskusi terbuka untuk membedah perbandingan potensi ekonomi antara sektor peternakan sapi dan budidaya porang yang belakangan berkembang pesat di sejumlah daerah khususnya di Bulukumba.
Dialog tersebut mengemuka di tengah pergeseran minat sebagian masyarakat dari sektor peternakan konvensional ke komoditas pertanian alternatif seperti porang yang dinilai memiliki nilai ekspor tinggi.
Sabir menambahkan melalui forum ini, Pemuda Muhammadiyah Bulukumba mendorong lahirnya perspektif yang objektif dan berbasis data, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.
Ia menegaskan bahwa dialog ini bukan untuk mempertentangkan dua sektor, melainkan mencari formulasi strategi ekonomi yang tepat bagi masyarakat. “Kita ingin melihat secara rasional, apakah beternak benar-benar tidak menjanjikan, atau justru perlu inovasi dan dukungan kebijakan agar kembali kompetitif,” ujarnya.
Melalui diskusi ini, diharapkan generasi muda mampu membaca peluang usaha secara komprehensif, mempertimbangkan aspek risiko, keberlanjutan, serta kontribusi terhadap ketahanan pangan dan ekonomi daerah.
Dialog ini sekaligus menjadi upaya Pemuda Muhammadiyah Bulukumba dalam mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal dengan mempertemukan akademisi, pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha agar terbangun sinergi yang berkelanjutan.
Ia berharap, hasil diskusi tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program konkret yang berdampak langsung pada peningkatan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat.(*)

