Oleh : Kasmad Bachtiar
Tak banyak kisah yang bermula dari sebuah desa kecil dan berakhir pada jejak besar dalam dunia jurnalistik. Namun perjalanan Abd. Rahman Syam—kini pimpinan Alief Media Nasional—adalah salah satu di antaranya.
Pengakuan pertamanya sebagai penulis berbakat datang pada tahun 1995, dari sosok yang tidak sembarangan: Andi Muin, MG, tokoh pers Sulawesi Selatan dan pendiri media cetak Mapress. Di tangan dialah bakat Abd. Rahman untuk pertama kali diakui dan dituntun ke arah yang lebih besar.
Semua bermula dari kebiasaan sederhana. Di desanya, Abd. Rahman aktif menulis kegiatan Kelompencapir (Kelompok Pendengar Pembaca dan Pemirsa) sebuah kegiatan yang dicetuskan pada masa pemerintahan Soeharto. Setiap tulisannya ia kirim ke Departemen Penerangan untuk dimuat dalam buletin resmi. Tidak berhenti di situ, ia juga menulis kegiatan tersebut dengan tulisan tangan, lalu menitipkannya kepada kerabatnya, M. Tawang, yang saat itu menjabat sebagai Kabiro Mapress Jeneponto, untuk dikirim ke redaksi Mapress di Ujung Pandang (kini Makassar).
Hanya berselang satu minggu, sebuah kejutan datang. Tulisan Abd. Rahman menarik perhatian langsung sang pendiri Mapress. Ia dipanggil untuk datang ke kantor redaksi. Abd. Rahman pun berangkat bersama M. Tawang, berboncengan motor menembus perjalanan panjang menuju Ujung Pandang—perjalanan yang tanpa ia sadari akan mengubah hidupnya.
Sesampainya di kantor Mapress, terjadi dialog singkat yang membekas hingga kini. Andi Muin, MG menghampirinya dan bertanya:
“Kamu Abd. Rahman?”
“Iye Puang,” jawabnya.
“Pernah sekolah menulis?”
“Tidak Puang. Saya hanya belajar sendiri… sekarang juga hanya loper koran.”
A. Muin tersenyum, lalu mengucapkan kalimat yang menjadi titik balik hidupnya:
“Kamu berbakat menulis. Tulisanmu bagus. Kamu cocok jadi wartawan.”
Pengakuan itu bukan hanya sebuah pujian—melainkan pintu besar menuju masa depan. Sejak saat itu, Andi Muin, MG mengajak Abd. Rahman bergabung menjadi wartawan Mapress untuk wilayah Jeneponto.
Dari seorang pemuda desa yang belajar menulis secara otodidak, Abd. Rahman menjelma menjadi jurnalis yang malang melintang di berbagai media. Selain Mapress, ia berlabuh ke sejumlah media lain seperti Harian Surya, Potret Bangsa, Kosong Satu, dan beberapa media berbeda yang memperkaya pengalaman jurnalistiknya.
Pada salah satu persinggahan itu—di Harnas News (sebuah media cetak dan online di Surabaya —ia dipertemukan dengan tiga rekan wartawan: M. Safaruddin, Muh. Jufri, dan Kasmad Bachtiar. Pertemuan itu melahirkan gagasan besar. Pada tahun 2019, keempatnya mendirikan media sendiri yang kini dikenal sebagai Alief Media Nasional.
Dari loper koran hingga pendiri media cetak dan media online —itulah jejak pena Abd. Rahman Syam. Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa tulisan sederhana dari sebuah desa kecil pun dapat menggema menjadi sejarah. (*)

