TAKALAR, Aliefmedia.com— Kondisi jembatan di lingkungan Pattene, Kelurahan Pattene, Kecamatan Polobangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, kini berada di titik mengkhawatirkan.
Infrastruktur yang disebut-sebut dibangun sekitar tahun 1980-an itu dilaporkan belum pernah direhabilitasi secara menyeluruh dan kini mengalami kerusakan semakin parah.
Pantauan warga menyebutkan, dalam tiga tahun terakhir kerusakan kian nyata. Retakan dan longsoran di bagian ujung jembatan semakin melebar, diperparah arus sungai deras pasca hujan beberapa waktu lalu.
Kekhawatiran jembatan ambruk bukan lagi issue, melainkan ancaman nyata.
Sebagai langkah darurat, warga bersama pemerintah setempat terpaksa memblokir akses kendaraan roda empat agar tidak melintas. Untuk sementara, kendaraan roda dua masih diperbolehkan lewat dengan kewaspadaan tinggi.
“Kami takut jebol tiba-tiba. Jangan sampai ada korban dulu baru ditangani,” ujar salah satu warga.
Daeng Sewa, warga yang rumahnya berada tidak jauh dari jembatan, saat ditemui awak media pada 15 Februari 2026, menyampaikan harapannya agar ada tindakan konkret dari pihak berwenang.
Menurut pengakuannya, derasnya arus sungai menyebabkan bibir sungai terkikis lebih dari lima meter. Rumahnya bahkan telah tiga kali dipindahkan karena abrasi yang terus menggerus tanah.
“Kalau bisa dibuatkan bronjong atau pondasi di sepanjang bibir sungai yang rawan, supaya tidak makin terkikis. Rumah saya sudah tiga kali digeser,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sudah tiga kepala kelurahan berganti dan masing-masing telah meninjau langsung kondisi tersebut. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut nyata.
“Sudah beberapa kali kami sampaikan lewat kelurahan, tapi belum ada realisasi,” katanya.
Sebagai bentuk kepedulian, warga secara swadaya menimbun batu gunung di ujung jembatan yang longsor, sedikitnya lima truk material telah dikerahkan. Namun upaya tersebut dinilai hanya solusi sementara, bukan penyelesaian permanen.
Ironisnya, menurut penuturan warga, mereka kerap melihat dokumentasi atau foto peninjauan, tetapi belum pernah melihat alat berat atau proyek perbaikan benar-benar dikerjakan di lapangan.
Situasi ini memantik pertanyaan publik: apakah jembatan tersebut telah masuk dalam daftar prioritas perbaikan? Jika ya, mengapa belum terealisasi? Jika belum, sampai kapan warga harus bertaruh keselamatan?
Jembatan tersebut merupakan akses vital aktivitas warga Dusun Pattene. Selain jalur transportasi harian, akses itu juga menopang kegiatan ekonomi masyarakat setempat.
Warga berharap ada langkah cepat, baik dari pemerintah kelurahan, kecamatan, hingga pemerintah kabupaten, untuk melakukan penanganan darurat sekaligus solusi jangka panjang.
Hingga berita ini diterbitkan, masyarakat menunggu kepastian dan tindakan nyata agar akses kembali aman dan tidak ada korban akibat kelalaian penanganan.
Publik kini menanti: apakah persoalan ini akan diselesaikan sebelum musibah terjadi, atau kembali menjadi cerita lama yang baru bergerak setelah jatuhnya korban?
Laporan : Faisal Muang, Asruddin Jangga

