Oleh: Saiful Alief Subarkah,
Perspektif Praktisi Media
BULUKUMBA, Aliefmedia.com – 23 April 2026 kembali diperingati sebagai Hari Buku Sedunia, sebuah momentum global yang tidak sekadar merayakan buku sebagai produk intelektual, tetapi juga menegaskan pentingnya budaya membaca, penerbitan, serta perlindungan hak cipta di tengah transformasi zaman.
Tahun ini, peringatan Hari Buku Sedunia mengusung penekanan kuat pada literasi digital—sebuah respons atas perubahan cara masyarakat mengakses pengetahuan. Buku tidak lagi hanya hadir dalam bentuk fisik, melainkan juga menjelma dalam format digital melalui e-reader, tablet, hingga platform daring yang semakin mudah diakses lintas generasi.
Dari sudut pandang praktisi media, Saiful Alief Subarkah melihat pergeseran ini sebagai peluang sekaligus tantangan. Dalam lanskap media yang serba cepat dan visual, minat baca kerap tergerus oleh konten instan. Namun di sisi lain, teknologi justru membuka jalan baru untuk memperluas jangkauan literasi.
“Media hari ini tidak bisa lagi hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga harus berperan sebagai kurator pengetahuan,” ungkapnya dalam refleksi peringatan tahun ini. Ia menilai bahwa integrasi buku dengan platform digital dapat menjadi jembatan untuk menarik minat generasi muda yang akrab dengan layar.
Menurutnya, penggunaan e-reader dan tablet bukanlah ancaman bagi eksistensi buku cetak, melainkan evolusi alami dalam cara manusia berinteraksi dengan teks. Yang terpenting bukan pada medianya, tetapi pada keberlanjutan budaya membaca itu sendiri.
Hari Buku Sedunia 2026 juga menjadi ajang penghormatan terhadap para penulis—mereka yang terus melahirkan karya di tengah dinamika industri yang berubah. Saiful menekankan bahwa di era digital, perlindungan hak cipta menjadi semakin krusial. Kemudahan distribusi harus diimbangi dengan kesadaran kolektif untuk menghargai karya intelektual.
Lebih jauh, ia mengajak media untuk aktif membangun ekosistem literasi yang inklusif. Kampanye membaca tidak cukup hanya bersifat seremonial, tetapi perlu diwujudkan melalui program berkelanjutan, kolaborasi dengan komunitas, serta pemanfaatan teknologi untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Peringatan Hari Buku Sedunia tahun ini pada akhirnya mengingatkan bahwa membaca adalah fondasi peradaban—baik melalui lembaran kertas maupun layar digital. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk membaca secara kritis dan mendalam menjadi keterampilan yang semakin relevan.
Sebagaimana disampaikan Saiful Alief Subarkah, masa depan literasi tidak ditentukan oleh format, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar. Dan Hari Buku Sedunia adalah pengingat bahwa di balik setiap kemajuan teknologi, selalu ada kebutuhan mendasar: manusia yang gemar membaca dan berpikir.(*)

