
BANTAENG, Aliefmedia.com — Dalam suasana penuh khidmat perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tahun 2026 Masehi, Ibu Bupati Kepulauan Selayar, Tri Yanti Rahmawati, melaksanakan penyembelihan hewan kurban di kawasan sekitar makam Syekh Abdullah Salimun Dg Maduppa, salah seorang tokoh penyebar agama Islam yang memiliki peran penting dalam perkembangan syiar Islam di Kabupaten Bantaeng Sulsel.
Ibu Bupati Selayar, Tri Yanti Rahmawati adalah merupakan cucu dari Syekh Abdullah Salimun Dg Maduppa.

Kegiatan kurban tersebut berlangsung di Kampung Cedo, Kelurahan Lamalaka, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sabtu (30/5/2026). Lokasi ini memiliki nilai historis dan religius karena menjadi tempat peristirahatan terakhir Syekh Abdullah Salimun Dg Maduppa yang dikenal sebagai ulama dan penyiar agama Islam yang berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat pada masanya.
Syekh Abdullah Salimun Dg Maduppa juga merupakan leluhur dari keluarga besar Karaeng Kebo, istri Karaeng Madjid, yang merupakan orang tua dari Karaeng Nini Madjid. Kehadiran keluarga keturunan beliau memberikan makna tersendiri dalam pelaksanaan ibadah kurban tersebut.
Turut hadir, Dr. Ir. H. Andi Makkasau, ST., MM, Ketua KSP Berkat Bulukumba, bersama istrinya Andi Nini Madjid bersama saudara-saudaranya dan keluarga besar Karaeng Kebo dan Karaeng Majid. Hadir pula masyarakat sekitar yang ikut menyaksikan dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Ibu Bupati Kepulauan Selayar, Tri Yanti Rahmawati menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya ibadah kurban di kawasan yang memiliki nilai sejarah bagi keluarganya.
“Kami sangat bersyukur karena momentum kurban tahun ini dapat dilaksanakan di tempat yang memiliki ikatan sejarah dan spiritual bagi keluarga besar kami. Selain sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengenang perjuangan leluhur kami, Syekh Abdullah Salimun Dg Maduppa, dalam menyebarkan syiar Islam serta mempererat tali silaturahmi dengan masyarakat,” ujar ibu Bupati.
Menurutnya, semangat berkurban tidak hanya mengajarkan keikhlasan dan kepedulian sosial, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai keagamaan dan warisan perjuangan para pendahulu.
Pelaksanaan kurban di kawasan yang sarat nilai sejarah keagamaan ini menjadi simbol penghormatan terhadap jasa para ulama terdahulu sekaligus menguatkan semangat berbagi dan kepedulian sosial kepada sesama. Suasana kebersamaan yang terjalin antara keluarga besar dan masyarakat sekitar mencerminkan nilai gotong royong serta persaudaraan yang terus terjaga hingga saat ini.(*)

