BULUKUMBA, Aliefmedia.com — Praktisi media penyiaran Saiful Alief Subarkah (SAS) menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Radio Nasional ke-81 yang jatuh pada 11 September 2026.
Peringatan Hari Radio Nasional tahun ini mengusung tema “Suara Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.” Bagi SAS, tema tersebut tidak boleh berhenti sebagai slogan seremonial, tetapi harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali peran radio sebagai ruang publik dan media yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Selamat Hari Radio Nasional ke-81. Tema Suara Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur harus dimaknai sebagai panggilan untuk memastikan radio tetap menjadi medium rakyat, bukan sekadar corong kepentingan,” ujar SAS dalam keterangannya, Jumat, 11 September 2026.
Menurut SAS, perjalanan radio selama lebih dari delapan dekade membuktikan bahwa media penyiaran tersebut mampu bertahan dan beradaptasi melewati berbagai perubahan zaman. Dari era radio analog hingga memasuki ekosistem digital, radio terus menemukan cara untuk hadir dan berinteraksi dengan masyarakat.
Namun, ia menilai tantangan radio saat ini tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi dan persaingan dengan berbagai platform digital. Tantangan yang jauh lebih mendasar adalah menjaga independensi, kualitas jurnalistik, keberpihakan terhadap kepentingan publik, serta kepercayaan pendengar.
“Radio tidak boleh kehilangan identitas hanya karena mengejar algoritma dan angka. Ketika suara publik dikalahkan oleh kepentingan bisnis maupun politik, di situlah radio mulai kehilangan rohnya,” kata SAS.
Ia menilai radio memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga kualitas ruang demokrasi. Di tengah derasnya arus informasi, misinformasi, dan polarisasi di ruang digital, radio tidak cukup hanya menjadi media yang cepat menyampaikan informasi.
Radio, kata SAS, juga harus mampu memverifikasi informasi, memberikan edukasi, menghadirkan konteks, serta membuka ruang dialog yang sehat bagi masyarakat.
“Radio yang sehat bukan semata-mata radio yang ramai didengar, tetapi radio yang berani mengangkat persoalan publik. Ukuran keberhasilan radio tidak seharusnya berhenti pada jumlah pendengar dan capaian komersial, tetapi juga pada seberapa besar kontribusinya terhadap kualitas informasi dan kehidupan demokrasi,” ujarnya.
SAS menegaskan, radio harus tetap memiliki keberanian editorial dalam menjalankan fungsi kontrol sosial.
“Radio harus berani bertanya ketika kebijakan publik merugikan masyarakat, berani memberi ruang ketika suara warga diabaikan, dan tetap kritis ketika ada kepentingan besar di balik sebuah isu,” tegasnya.
Memperkuat Suara Daerah
SAS juga menyoroti pentingnya keberadaan dan penguatan radio lokal. Menurutnya, pembangunan yang adil tidak cukup hanya diukur dari seberapa cepat informasi dari pusat disampaikan ke daerah.
Yang tidak kalah penting, kata dia, adalah memastikan masyarakat di daerah memiliki ruang yang setara untuk menyampaikan gagasan, kritik, kebutuhan, dan persoalannya.
“Indonesia bukan hanya Jakarta. Ada suara dari desa, pesisir, kepulauan, kawasan perbatasan, dan daerah-daerah yang selama ini tidak selalu mendapatkan panggung. Radio harus menjadi jembatan agar suara mereka tidak tenggelam,” ujarnya.
Dalam pandangan SAS, radio lokal memiliki keunggulan karena berada lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Radio dapat mengangkat persoalan yang terkadang tidak menjadi perhatian media berskala nasional, mulai dari kebutuhan masyarakat desa, persoalan pelayanan publik, ekonomi lokal, pendidikan, kebudayaan, hingga berbagai isu sosial di daerah.
Karena itu, ia berharap transformasi digital tidak justru menjauhkan radio dari fungsi sosialnya. Sebaliknya, digitalisasi harus dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan, memperkuat interaksi dengan pendengar, dan membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi.
“Radio tidak perlu melawan perubahan zaman. Yang harus dilawan adalah hilangnya relevansi dan hilangnya keberanian untuk menyuarakan kepentingan publik,” tutur SAS.
Ia berharap momentum Hari Radio Nasional ke-81 menjadi kesempatan bagi seluruh insan penyiaran untuk melakukan evaluasi sekaligus memperkuat kembali arah industri radio.
Menurutnya, radio masa depan bukan hanya radio yang mampu bertahan secara bisnis, tetapi radio yang tetap dipercaya karena konsisten menghadirkan informasi yang berkualitas dan memberi ruang bagi masyarakat untuk bersuara.
“Jangan sampai Indonesia hanya menjadi bangsa yang didengar ketika masyarakat berbicara. Radio harus menjadi bagian dari ekosistem yang membuat suara rakyat benar-benar diperhitungkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkas SAS.(*)

