Penulis: Daeng Tayang
Di belantika sepak bola lokal, banyak nama datang dan pergi. Namun, hanya sedikit yang benar-benar menetap dalam ingatan kolektif masyarakat. Di Tarowang, satu nama itu adalah Arifin Thalib, sosok maestro yang lebih akrab disapa MA’JA.
Beliau bukan sekadar pemain, melainkan sebuah fenomena. Di masanya, MA’JA dikenal sebagai “Raja Tarkam” — penguasa lapangan yang menghadirkan ancaman nyata di setiap jengkal area pertahanan lawan. Kehadirannya di depan gawang selalu membuat kiper waspada, bahkan gentar.
MA’JA adalah representasi striker sempurna yang langka. Kedua kakinya sama tajamnya—kiri maupun kanan mampu menjadi senjata mematikan. Pergerakannya sulit ditebak, insting mencetak golnya nyaris tanpa cela. Bagi lawan, menghentikan MA’JA adalah tugas yang hampir mustahil.
Tak hanya itu, ia juga dikenal sebagai penguasa udara. Sundulan kepalanya bukan sekadar sentuhan, tetapi menjadi arah pasti menuju gol. Dari kaki kiri, kaki kanan, hingga kepalanya, MA’JA adalah paket komplet seorang penyerang sejati.
Kini, di usia yang telah melewati kepala lima, semangat itu tak pernah surut. Saat kembali mengenakan jersey dengan nomor punggung 10, yang terlihat bukan sekadar seorang pria yang bermain bola, melainkan sebuah “monumen hidup” yang berjalan di atas lapangan.
Kehadirannya bersama para legenda lainnya menjadi pengingat bahwa sepak bola sejatinya adalah tentang cinta yang tak lekang oleh waktu. Meski usia terus berjalan, kelincahan, sentuhan, dan instingnya tetap hidup, seakan menolak tunduk pada zaman.
MA’JA bukan hanya legenda, tetapi simbol bagi Tarowang—bahwa pahlawan sejati tidak pernah benar-benar pensiun. Ia menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa kehebatan lahir dari kerja keras, dedikasi, dan semangat yang melampaui batas usia.
Dedikasinya di lapangan hijau adalah cerminan filosofi hidup: selalu berikan yang terbaik, selama detak jantung masih seirama dengan langkah kaki.
Doa kami selalu menyertaimu, Sang Legenda.
Sehat selalu, Arifin Thalib. Semoga langkahmu tetap kuat, nafasmu tetap panjang, dan sinarmu terus menerangi.
Tetaplah menjadi kebanggaan Tarowang, keluarga, dan Lapa’ Eja.
Terima kasih telah mengajarkan kami arti mencintai sepak bola dengan sepenuh jiwa dan raga.(*)

