BULUKUMBA, Aliefmedia.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bulukumba menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) untuk membahas tragedi yang menimpa seorang pengunjung di kawasan wisata Apparalang, Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Selasa (9/6).
Rapat dipimpin langsung Ketua Komisi II DPRD Bulukumba, H. Muhdar Reha, didampingi Wakil Ketua Komisi II Kaspul BJ. Hadir pula anggota Komisi II lainnya, yakni Andi Narni Nurintan, H. Musa Lirpa, Anhar Sakti, Jusman, Dr. Supriadi, dan H. Safiuddin. Turut mengikuti rapat Wakil Ketua II DPRD Bulukumba, Syahruni Haris.
Dalam rapat tersebut, Komisi II menghadirkan sejumlah instansi dan pihak terkait, di antaranya Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Inspektorat Daerah, Bagian Hukum Setda Bulukumba, perwakilan Kodim 1411 Bulukumba, Polres Bulukumba, Pemerintah Desa Ara, serta Basarnas Bantaeng yang terlibat dalam proses pencarian korban.
Pertemuan tersebut difokuskan pada evaluasi aspek keselamatan, tata kelola, dan legalitas pengelolaan destinasi wisata yang menjadi salah satu ikon pariwisata Bulukumba tersebut.
Dalam rapat, DPRD menyoroti minimnya fasilitas dan standar keselamatan di kawasan wisata Apparalang. Sejumlah fasilitas pendukung keselamatan dinilai belum memadai, termasuk ketersediaan petugas keselamatan, perlengkapan penyelamatan, serta prosedur penanganan keadaan darurat bagi pengunjung.
Wakil Ketua DPRD Bulukumba, Syahruni Haris, menegaskan bahwa peristiwa yang merenggut nyawa seorang wisatawan tersebut harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap pengelolaan objek wisata.
“Keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama. Tragedi ini menjadi pelajaran penting agar seluruh destinasi wisata di Bulukumba memiliki standar keamanan yang jelas dan dapat diterapkan secara konsisten,” ujarnya dalam rapat tersebut.
Sebagaimana diketahui, tragedi tersebut bermula saat seorang wisatawan perempuan dilaporkan terjatuh ke laut saat berada di salah satu spot foto di kawasan wisata Apparalang pada Minggu (7/6/2026). Korban kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah dilakukan proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
Peristiwa itu memicu perhatian publik dan mendorong berbagai pihak untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan dan pengelolaan destinasi wisata yang berada di kawasan pesisir tersebut.(*)

