Oleh : Ust. Shamsi Ali Al-Nuyorki
Entah kenapa, saya sangat menggemari sepak bola.
Saya mengikuti kejuaraan dunia sepak bola kali ini sejak awal, berusaha paham seluk beluk dan arah pergerakan kompetisi. Sejak kecil sepak bola selalu menjadi kesukaan saya, walau saya bukan pemain bola yang baik.
Namun kali ini, hal yang menarik perhatian bahkan menyentuh hati saya, bukan sekedar bola dan kejuaraan dunia. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam dan mulia dari sekedar kejuaraan sepak bola dunia.
Simpati dan Dukungan Saya Untuk Spanyol
Hari ini saya bahagia. Tim favorit saya, Spanyol, tidak saja memenangkan Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah, tapi mendominasi permainan melawan Argentina yang ditenggarai anak emas FIFA. Jutaan orang bertepuk tangan dan merayakan taktik permainannya yang cantik. Lalu pada menit-menit terakhir berhasil mendobrak gawang lawan, mewujudkan mimpi untuk mengangkat trofi itu.
Sejujurnya, simpati dan dukungan saya kepada Spanyol sudah tumbuh jauh sebelum peluit di pertandingan ditiupkan. Simpati dan dukungan saya bermula ketika Gaza melewati masa-masa tergelapnya, dan Spanyol menolak untuk memalingkan muka.
Ketika banyak negara dunia memilih diam, jalan dan lorong-lorong di Spanyol justru memilih untuk bersuara lantang. Dari Madrid hingga Barcelona, dari Valencia hingga Sevilla, lautan manusia tumpah ruah: mahasiswa, pekerja, keluarga, membawa bendera Palestina dan meneriakkan penentangan kepada kezholiman dan genosida. Mereka menuntut agar penderitaan bangsa Palestina segera dihentikan, agar mereka juga dipandang sebagai manusia.
Di saat politik dunia dikuasai oleh kepentingan, kalkulasi, dan standar ganda, Spanyol di banyak momen sulit yang kritis justru memilih untuk menempatkan kemanusiaan dan keadilan di atas segalanya.
Saya sangat sadar, tidak ada negara yang sempurna. Saya tahu politik tidak pernah sesederhana itu. Namun Spanyol menjadi salah satu negara dengan suara paling lantang di Eropa untuk membela hak-hak Palestina. Spanyol mengakui Negara Palestina, menyerukan penghentian pengiriman senjata, dan membangun dukungan dan solidaritas di ruang-ruang publik, walau dalam tekanan yang berat.
Coba sesaat bayangkan. Jika kamu dan saya hidup di bawah pemboman setiap waktu, dibuntuti pembantaian sadis, pastinya kamu dan saya akan ingat jelas siapa yang memalingkan wajahnya dan siapa yang tetap berdiri di sampingmu.
Maka ketika hari ini saya berteriak lantang: “Selamat Spanyol! Saya tidak hanya memberi selamat kepada sebelas pemain di atas lapangan. Saya memberi selamat kepada sebuah bangsa: Rakyat dan pemerintahnya.
Saya memberi selamat kepada rakyat Spanyol yang telah membuka jalan-jalan mereka untuk perjuangan bangsa Palestina tetap membara, membela hak mereka untuk hidup dengan martabat dan merdeka, dan membuktikan bahwa rasa welas asih masih hidup di dunia ini.
Untuk pemerintahan Spanyol, terima kasih atas komitmen dan kosistensi dalam membela kebenaran dan keadilan. Tanpa ragu memutuskan hubungan diplomasi dengan negara penjajah yang kejam, yang tidak memiliki pri keadilan dan kemanusiaan.
Pertandingan sepak bola telah selesai. Stadion sudah kosong. Trofi suatu hari nanti akan berdebu di dalam museum. Tapi pembelaan kalian kepada keadilan dan kemanusiaan akan hidup selamanya.
Selamat Spanyol!
Kalian telah memenangkan hati para pejuang kemanusiaan dan keadilan, jauh sebelum kalian memenangkan trophy itu.
Dari para pejuang kemanusiaan dan keadilan terkirim cinta: Gracias, España. Terima kasih telah berdiri bersama mereka yang lemah dan terlemahkan: bangsa Palestina!
Jamaica Hills, 19 Juli 2026
*Pecinta Sepak Bola di Kota New York

