BULUKUMBA, Aliefmedia.com — Suasana haru, bangga, dan penuh kehangatan menyelimuti halaman SLBN 1 Bulukumba saat sekolah tersebut memperingati Hari Disabilitas Internasional. Bukan sekadar sebuah perayaan, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan hati—antara anak-anak luar biasa, guru, orang tua, dan para pemangku kepentingan—dalam satu pesan sederhana namun mendalam: setiap anak berhak dihargai dan diberi kesempatan untuk bersinar.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Pengadilan Negeri Bulukumba, perwakilan Camat Ujung Bulu, Ketua Komite SLBN 1 Bulukumba, Ketua Penyandang Disabilitas Pemilu, serta Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI Kabupaten Bulukumba. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai tamu undangan, tetapi sebagai saksi atas kemampuan dan ketulusan anak-anak penyandang disabilitas yang tampil dengan penuh percaya diri.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VI, H. Arafah, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh warga SLBN 1 Bulukumba.
Menurutnya, sekolah luar biasa bukan sekadar tempat belajar, tetapi rumah yang menumbuhkan harapan.
“Anak-anak ini tidak membutuhkan rasa iba, mereka membutuhkan kepercayaan. Ketika diberi ruang dan kesempatan, mereka mampu menunjukkan kemampuan yang luar biasa,” tutur H. Arafah dengan suara penuh empati.
Sambutan dilanjutkan oleh Kepala SLBN 1 Bulukumba, Andi Muh. Rusli MR, S.Pd.Gr., M.M. Dengan nada penuh ketulusan, ia menegaskan bahwa Hari Disabilitas Internasional adalah pengingat bagi semua pihak untuk terus memperjuangkan pendidikan yang adil dan manusiawi.
“Kami ingin anak-anak kami tumbuh dengan rasa percaya diri, merasa dicintai, dan yakin bahwa mereka diterima apa adanya. Harapan kami, masyarakat dan pemerintah terus berjalan bersama kami, membuka lebih banyak peluang bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” ungkapnya.
Rangkaian acara diisi dengan penampilan yang menyentuh hati. Tari Paduppa yang dibawakan oleh anak-anak tunarungu membuka pertunjukan dengan gerak lembut dan penuh makna. Dilanjutkan tari kolosal yang menggambarkan semangat kebersamaan, pantomim yang mengundang senyum sekaligus haru, serta peragaan keterampilan memperbaiki jam dinding yang menunjukkan kesiapan siswa menghadapi kehidupan mandiri.
Suasana semakin emosional saat anak autis dan tunanetra tampil menyanyikan lagu secara solo, disambut tepuk tangan panjang dari para hadirin. Tak kalah menyentuh, puisi yang dibacakan oleh anak tunagrahita mengalir jujur dari hati, membuat banyak mata berkaca-kaca.
Perwakilan orang tua siswa menyampaikan rasa syukur karena SLBN 1 Bulukumba telah menjadi tempat yang aman dan penuh kasih bagi anak-anak mereka.
“Di sinilah anak kami diterima, dipahami, dan dibimbing dengan sabar. Kami berharap pemerintah terus memperhatikan SLB, karena di sinilah harapan kami dititipkan,” ungkap salah satu orang tua dengan suara bergetar.
Para guru SLBN 1 Bulukumba pun menyampaikan komitmen mereka untuk terus mendampingi siswa dengan sepenuh hati. Bagi mereka, mengajar di SLB bukan sekadar profesi, melainkan panggilan nurani untuk memanusiakan manusia.
Melalui peringatan Hari Disabilitas Internasional ini, warga sekolah SLBN 1 Bulukumba berharap pemerintah semakin memperkuat dukungan, baik dalam bentuk sarana prasarana, pelatihan guru, maupun kebijakan yang berpihak pada pendidikan disabilitas.
Mereka percaya, dengan sinergi semua pihak, anak-anak luar biasa ini akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bermartabat, dan membanggakan.
Peringatan ini pun ditutup dengan senyum, pelukan, dan harapan—bahwa dunia akan terus belajar untuk lebih ramah, lebih adil, dan lebih manusiawi bagi semua.(ARS)

